Dimarahi Karena Antar Nasi, Ibu Ini Bikin Satu Sekolah Menyesal Saat Hal Sedih Ini Terungkap

Apa yang dilakukan oleh  ibu ini sangat mengharukan.  Setiap hari ia dibentak karena melanggar aturan sekolah, yakni mengantar nasi kotak untuk anaknya.
Tapi meski melanggar aturan, ia tetap melakukan itu sampai semua sadar dengan apa yang ia lakukan dan satu sekolah dibuat menangis haru dibuatnya.

Berikut kisahnya, dilansir Sohu semoga bermanfaat untuk disimak.
Siang hari, aku berdiri di pintu gerbang sekolah bertindak sebagai pemandu lalu lintas, membantu anak-anak kelas satu pulang sekolah.
Ibu Xin Yong, terlihat membawa kotak makanan menunggu di gerbang sekolah.
Aku berteriak, dan dia pun menoleh dengan wajah tersenyum malu.
“O…Guru!”

“Aduh Bu! Bukankah aku sudah bilang? Sekolah melarang orang tua membawa nasi kotak untuk anak-anak.  Jika setiap ibu seperti Anda, gerbang sekolah nanti jadi penuh sesak dengan ayah/ibunya anak-anak yang membawa nasi kotak, jadi bagaimana kita membantu memandu mereka pulang sekolah?”
 “Aku tahu, aku tahu!”
“Huh!’ Sudah tahu masih bawa, sama juga bohong.”

“Ibu kan bisa menyuruhnya membawa sendiri!”
“Aku tahu, aku tahu!” jawab ibu Xin Yong dengan cepat.
Ibu yang selalu bersikeras membawakan makan siang untuk anaknya.
Entah sudah berapa kali sudah selalu mengucapkan kata-kata ini, “Aku tahu, aku tahu.”

Setiap tiba siang hari, ayah/ibu yang membawakan nasi kotak selalu bertabrakan dengan anak-anak kelas satu yang pulang sekolah, sehingga sangat merepotkan pihak pemandu lalu lintas sekolah.
Xin Yong adalah anak yang pendiam, pemalu dan patuh.
Suatu ketika saat belajar di kelas, tiba-tiba dia tertidur, aku terkejut, dan membangunkannya.
 “Ada apa?” Tanyaku

Dia pun berdiri dengan tatapan bingung, dan tidak menjawab.
Hari kedua di kelas, dia tertidur lagi, aku pun benar-benar tidak tahan, lalu dengan kesal memanggilnya menghadap.
 “Ada apa denganmu?”
Aku benar-benar sudah kesal, nada bicaraku pun mulai tidak dapat dikendalikan.

Tiba-tiba, dia meneteskan air mata. Sontak aku pun kaget melihatnya.
“’Ayo bicara!Kenapa kamu selalu mengantuk di kelas?”
“Ibu saya dirawat di rumah sakit! Kemarin saya terus menemaninya di rumah sakit.”
Seketika kemarahan saya pun sirna, dan menyesal dengan sikapku barusan.
“Kenapa ibumu dirawat di rumah sakit?”
“Sakit, kanker paru-paru!”

Darah saya pun seketika berdesir mendengarnya. Pikiran saya terpaku pada Xin Yong yang fisiknya lemah ini.
Bagimana jika tiba hari itu, bagaimana dia akan melewati hari-hari yang panjang itu ke depannya?
Sampai disini, tidak bisa tidak hatiku pun merasa sedih.
Saat makan, sambil menyuapi anak makan.

Dan seketika terbayang dalam benakku, saat melihat ibu Xin Yong secara diam-diam membawakan nasi kotak untuknya.
Keesokan harinya setelah pulang kerja, saya pun ke rumah sakit menjenguk ibunya Xin Yong.
Baru beberapa minggu tidak melihatnya, ibu Xin Yong tampak kurus dan mukanya tirus.

Dan saya benar-benar tidak percaya dengan pandangan mata saya, melihat wajahnya yang pucat pasi, kepalanya yang botak, apakah itu ibunya Xin Yong saya lihat sehari-hari di masa lalu.
Dia tampak terkejut ketika melihatku, dan mencoba berdiri. Tapi, begitu aku berdehem, ia pun memandangku.
“Jangan berdiri! Jangan berdiri!”
 “Terima kasih, guru! Terima kasih!” katanya terbata-bata.

Dia berusaha berteriak, dan tampak air matanya berlinang.

Di koridor rumah sakit, ayah Xin Yong berkata kepadaku.
 “Hanya sisa dua bulan lagi! Oh Tuhan…! Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa?”
Sekembalinya ke sekolah, saya pun melaporkan kepada kepala sekolah.
“Ayahnya sudah berumur lebih dari enam puluh tahun, dan sekarang ibu akan segera meninggalkan dunia ini, apa kita bisa memulai penggalangan dana di seluruh sekolah? Tidak peduli berapa pun jumlahnya, yang penting bisa membantunya.”

Kepala sekolah pun langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya lagi.
Setelah beberapa hari penggalangan dana, akhirnya kami mengumpulkan $ 52,120 atau sekitar Rp. 102,1 juta.
Ketika uang itu dibawa ke rumah sakit, ibu Xin Yong sudah dalam keadaan koma.
“Kami berencana membawanya pulang hari ini!”
Ayah Xin Yong, wajahnya tampak pucat dan tirus. Kepalaku berkedut seketika

Untuk terakhir kalinya, biarkan ibu membawakan nasi kotak.
“Guru, boleh minta bantuannya?”
“Katakan saja! Saya pasti akan bantu semampunya.”
“Beberapa hari yang lalu, dia terus menggenggam tangan Xin Yong, berkata dengan sekuat tenaga: Ibu tidak bisa membawakan nasi kotak lagi untukmu!”

Jadi saya minta tolong guru izinkan dia mengantarkan nasi kotak untuk terakhir kalinya.”
Hanya pada saat mengantarkan nasi kotak, dia baru benar-benar merasakan kemuliaan sebagai seorang ibu.
Mendengar permohonan itu, aku pun langsung mengangguk dengan perasaan campur aduk.
Siang itu, terdengar raungan mobil ambulans memasuki gerbang sekolah.

Ayah Xin Yong dan seorang staf medis, mendorong seseorang yang terbaring di atas brankar (tandu pasien).
Mata saya berkaca-kaca, berdiri di samping, siang itu saya bertindak sebagai guru pemandu lalu lintas.
“Itu dia ambulannnya sudah sampai!”
Ayah Xin Yong membeli sebuah nasi kotak, ibu Xin Yong yang berbaring lemah di atas brankar menjulurkan tangannya yang kurus pucat mengambil nasi kotak.

Dengan ditemani staf medis, perlahan-lahan mereka memasuki gerbang besi.
Sementara di sisi lain, Xin Yong mengulurkan tangan kanannya, dan mengambil nasi kotak dari ibunya.
“Ibu!” Raung Xin Yong dalam isak tanginsya.
Saat itu, saya melihat dengan jelas pipi ibunya yang cekung.

Berkedut sebentar, seolah-olah mau bicara, tapi tidak terucapkan.
“Ibu!Tidak!Tidak!Aku tak mau ibu pergi!” Teriak Xin Yong sambil meratap memandang langit.
Melihat pemandangan itu, air mataku pun tak bisa lagi kubendung, mengalir deras membasahi wajahku.
Aku benci pada diriku sendiri, betapa kejamnya aku sebelumnya pada ibu Xin Yong!

Keesokan harinya, ibu Xin Yong akhirnya pergi dalam kedamaian.
Sehari setelah upacara pemakaman ibu Xin Yong, ayah Xin Yong menemuiku di kantor, dan menyerahkan sebungkus kertas kraft.
“Guru! Ini adalah uang bantuan dari anda dan anak-anak untuk kami sekeluarga. Saya pikir masih banyak siswa yang lebih membutuhkannya. Jadi, saya kembalikan kepada kalian. Terima kasih atas bantuannya”

Selesai menyampaikan maksudnya, ayah Xin Yong meletakkan uang itu, lalu mengangguk mohon pamit dan berlalu.
Uang ini seakan-akan panas mendidih, langsung membakar merasuk ke relung hati saya.
Setiap hari saya selalu mengajak Xin Yong ngobrol.
Saya khawatir dia tak tahan cobaan atas kepergian ibunya.
“Guru! jangan khawatir, saya baik-baik saja! Guru tidak perlu khawatir dengan saya!”

Xin Yong berkata pada saya, “Sejak awal saya sudah tahu ibu akan segera pergi. Saya juga bukannya mau membantah kata-kata guru, menyuruh ibu untuk tidak membawa nasi kotak lagi. Karena, dalam sepanjang hari itu, saya baru bisa menikmati masakan ibu saya.”
Hatiku seketika berdesir mendengar pengakuan Xin Yong, muridku, dan bertanya padanya, “Kenapa?”

“Ibuku sangat lemah, melarangnya masak, jadi ayah yang memasak di rumah. Hanya pada saat ayah tidak ada pada siang hari, ibu baru secara diam-diam memasak. Dan ibu selalu bersikeras membawakan makan siang untukku.”
Usai menceritakan semua itu, air mata Xin Yong pun berlinang membasahi pipinya.



loading...

Leave a Comment